Skip to main content
Berita KegiatanPencegahan dan Pemberdayaan MasyarakatBerita Utama

Dialog Interaktif Remaja Sesi V Membahas Self Regulation Pada Remaja Masa Kini.

Dibaca: 11 Oleh 15 Sep 2021Tidak ada komentar
Dialog Interaktif Remaja Sesi V Membahas “Self Regulation” Pada Remaja Masa Kini.
#BNN #StopNarkoba #CegahNarkoba

Selasa (07/09), kegiatan Dialog Interaktif Remaja dalam rangka Pembentukkan Remaja Teman Sebaya Anti Narkoba oleh BNNK Tual berlanjut di sesi-V. Kali ini, kegiatan dilaksanakan di Radja Resto Tual dan masih melibatkan 10 orang remaja yang sama. Berbeda dengan sesi sebelumnya, sesi ke-V menghadirkan Narasumber Ibu Rofiko Rahayu Kabalmay, S.Psi dan dibantu oleh Kak Hesdo Celvin Naraha. Pada sesi ini, mengusung tema tentang “Self Regulation / Regulasi Diri Khususnya Pada Remaja Masa Kini”.

Masa remaja adalah masa dimana ingin mencoba hal-hal baru dalam rangka mencari jati diri, iseng belaka atau sekedar mencari tantangan baru dalam hidupnya. Namun sayangnya, keinginan para remaja tersebut kadang melampaui batas dan menjurus ke hal negatif yang merugikan dirinya sendiri, contohnya seperti penyalahgunaan narkoba.

Banyak cara agar para remaja terhindar dari bahaya penyalahgunaan narkoba, salah satunya adalah menerapkan self regulation. Berbekal regulasi diri, para remaja dapat mengatur dirinya atau mengarahkan dirinya kepada hal-hal yang positif demi mencapai tujuan yang diinginkan. Sikap ini dapat meningkatkan keunggulan diri mereka dengan mengatur emosi yang muncul akibat kondisi yang terjadi dari tiap individu. Dengan cara meregulasi diri, masing-masing individu mampu mengekspresikan emosi dengan cara yang baik dan benar. Dengan demikian, remaja bisa berani mengutarakan apapun perasaan mereka kepada lawan bicara tanpa menyakiti lawan bicara mereka.

Dialog Interaktif Remaja Sesi V Membahas “Self Regulation” Pada Remaja Masa Kini.

Lahir : Regulasi diri merupakan kemampuan yang tidak dimiliki sejak lahir, melainkan dari proses belajar.

Seperti yang dikatakan Bunda Yayu, sapaan akrabnya, dalam materinya, beliau menyampaikan bahwa regulasi diri merupakan kemampuan yang tidak dimiliki sejak lahir, melainkan terbentuk dari pengalaman dan hasil belajar. Sehingga, regulasi diri dapat dikembangkan dalam diri siapa saja, sebab dengan kemampuan regulasi diri yang baik seorang remaja akan optimal dalam mengontrol pribadinya dan mendukunya untuk meraih cita-cita.

Kegiatan diawali dengan sebuah permainan yang dipandu oleh kak Hesdo. Permainannya dinamakan Self Tree atau Pohon Diri yang di dalamnya menggambarkan kepribadian baik kelebihan maupun kekurangan dari masing- masing peserta. Meskipun menggambarkan kepribadian diri, namun Self Tree ditulis dengan nama samaran agar tidak dikenal siapa pemiliknya. Selanjutnya, kak Hesdo menunjuk satu persatu peserta untuk maju ke depan untuk mengambil Self Tree yang sudah diacak. Kemudian,  peserta membacakan setiap Self Tree yang bertuliskan kelebihan dan kekurangan diri milik setiap anak dengan nama disamarkan.

Setelah permainan Self Tree usai, kak Hesdo mulai membagi 10 peserta menjadi 3 kelompok kecil berdasarkan warna pada name tag peserta yang telah dibagi saat registrasi. Selanjutnya, masing-masing kelompok diperintahkan mengambil 1 kertas yang terdapat di kotak hitam atau disebut Truth Box.  Di dalam kotak tersebut berisi semua masalah yang pernah dialami atau sedang dirasakan setiap peserta, masalah tersebut adalah masalah yang mereka tulis saat kegiatan belum dimulai.

Dialog Interaktif Remaja Sesi V Membahas “Self Regulation” Pada Remaja Masa Kini.

Kuat :Peserta diminta untuk memecahkan masalah dengan memanfaatkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliknya.

Kemudian, para peserta diminta mendiskusikan bersama kelompoknya selama 10 menit, hal ini bertujuan agar mereka dapat memecahkan masalah dengan segala kekuatan dan kelemahan yang mereka miliki. Usai berdikusi di masing-masing kelompok, setiap kelompok diminta maju ke depan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dan saling bertukar pikiran dengan kelompok lain.

Kegiatan ini dibuat dengan harapan para remaja mampu menolak hal negatif dan ajakan-ajakan yang dianggap tidak selaras dengan kondisi atau keinginan pribadi, seperti ajakan penyalahgunaan narkoba. Hal tersebut dipertegas melalui sepenggal kalimat yang disampaikan oleh Ibu narasumber sebagai penutup sesi. “it is better to be yourself and have no friends than to be like your friends and have no self”. Yang artinya “lebih baik menjadi diri sendiri dan tidak memiliki teman dari pada menjadi seperti teman dan tidak menjadi diri sendiri”. (sar&res/rez)

Terkait

Kirim Tanggapan