Skip to main content
Berita KegiatanPencegahan dan Pemberdayaan MasyarakatBerita Utama

Self Authenticity to War on Drugs Dikupas Tuntas di Sesi Keempat Dialog Remaja

Dibaca: 20 Oleh 10 Sep 2021Tidak ada komentar
Self Authenticity To War On Drugs Dikupas Tuntas di Sesi ke-IV Dialog Remaja
#BNN #StopNarkoba #CegahNarkoba

Petang hari Sabtu, 4 September 2021, 10 orang remaja dilibatkan di kegiatan Dialog Interaktif Remaja Dalam Rangka Pembentukan Remaja Teman Sebaya Anti Narkoba 2021 yang berasal dari Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara. Mereka diajak berbincang mengenai peran remaja dalam memerangi narkoba. Acara ini diadakan di Rumah Pizzaku, jalan Jenderal Ahmad Yani Kota Tual, dengan menghadirkan narasumber, Hesdo Celvin Naraha, S.Psi, seorang pelatih dari Forum Peduli Anak Kepulauan Kei. Pada sesi keempat, kegiatan ini menggandeng narasumber dari lembaga yang berbeda, meskipun di sesi sebelumnya juga melibatkan narasumber dari instansi terkait lainnya.

Self Authenticity To War On Drugs Dikupas Tuntas di Sesi ke-IV Dialog Remaja

Narasumber : Libatkan Forum Peduli Anak Kepulauan Kei, Kak Hesdo menjadi narasumber dari giat Dialog Remaja.

Seperti yang kita ketahui bersama, penyalahgunaan narkoba sebagai bagian dari kenakalan remaja merupakan wujud ketidakmampuan remaja menyesuaikan diri. Lingkungan sosial dan perubahan zaman yang cepat serta konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik, menyulitkan mereka untuk menyesuaikan diri. Salah satu dukungan sosial yang dibutuhkan remaja selain keluarga adalah teman sebaya. Maka dari itu, 10 orang remaja ini diharapkan menjadi influencer yang memiliki kemampuan untuk menyebarkan informasi tentang bahaya narkoba, serta memberikan dampak positif ketika mereka berinteraksi dengan teman sebayanya di lingkungan sekolah, tempat tinggal maupun di komunitasnya.

Dalam paparan Ka Hesdo, demikian dia sering disapa, memperkenalkan terminologi yang disebut “Self Authenticity atau “Keaslian Diri. Istilah ini berfungsi sebagai bekal untuk menghadapi tantangan di derasnya perubahan zaman yang begitu pesat dan bisa berdampak buruk bagi remaja. Keaslian diri diartikan sebagai seseorang yang mampu jujur pada diri sendiri. Di mana seseorang dengan kesadaran penuh dan utuh, menerima setiap situasi dan kondisi dalam hidupnya sebagai a part of my life, even good or bad. Kak Hesdo menyebutkan hasil penelitian dari Vannini dan Franzese (2008) yang menunjukan kalau remaja seringkali memilih kabur atau lari dari masalah, mereka tidak berani menghadapi apalagi menyelesaikannya. Alasannya sederhana karena mereka takut dan belum siap.

Kemudian Kak Hesdo mengajak peserta untuk melihat fakta tentang penyalahgunaan narkotika pada remaja di beberapa tahun terakhir ini. Pada saat penyampaian materi Ka Hesdo mengungkapkan bahwa Penelitian oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (PPK-UI), menemukan bahwa tren prevalensi penyalahgunaan Narkoba tahun 2018 sebesar 1,77% atau sekitar 3.376.114 orang telah menyalahgunakan Narkoba (Mulyani et.al, 2019). Sementara data terbaru di tahun 2019 menunjukkan bahwa angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia mencapai 1,80% atau sekitar 3.419.888 jiwa (bnn.go.id, 2020). Fakta-fakta ini harus diketahui remaja sebagai ancaman bagi mereka yang mampu merusak keaslian diri.

Pengetahuan di atas penting, karena remaja di era digital ini menjadi mudah sekali insecure atau merasa rendah diri. Inilah salah satu bentuk dari kurangnya pengenalan akan diri yang utuh, penuh dan mendalam. “Adek-adek dong perlu punya kontrol diri yang baik, belajar untuk mindfulness, selain itu mendapatkan dukungan sosial yang penuh dan baik, dan memiliki sikap keseharian yang religius. Semua itu bisa dilatih mulai dari saat ini,” terang Kak Hesdo.

Self Authenticity To War On Drugs Dikupas Tuntas di Sesi ke-IV Dialog Remaja

Diskusi : Peserta diajak diskusi untuk menerima diri sendiri, baik hal positif maupun negatif.

Kegiatan dialog dengan topik Self Authenticity To War on Drugs diakhiri dengan games “Menggambar Diri”. Setiap peserta diminta menggunakan kertas dan crayon untuk menggambar sesuatu yang mewakili dirinya. Setelah itu mereka diminta menjelaskan maksud dari gambar tersebut. Semua peserta kemudian menceritakan maksud dari apa yang mereka gambar dan mengapa memilih gambar itu untuk merepresentasikan dirinya.

Lewat permainan gambar ini, remaja diajak masuk ke dalam diri dan melihat dirinya, serta menilai secara jujur keadaannya saat ini. Apa yang dirasakan, apa yang ditakutkan atau apa yang ingin diraihnya. Tujuan dari games ini adalah menerima dirinya secara sadar, baik kelebihan maupun kekurangannya. Secara tidak langsung, permainan ini membawa mereka membentuk pemikiran yang positif ke dalam benaknya. Pemikiran positif inilah yang menjadi bekal para remaja saat berinteraksi di lingkungannya dan jauh dari hal negatif, seperti penyalahgunaan narkoba. (dad/rez)

Terkait

Kirim Tanggapan